Default Screen Resolution Wide Screen Resolution
Home arrow Artikel arrow BERJAGA-JAGALAH
BERJAGA-JAGALAH PDF Print E-mail
Written by Agus Sumantri   
Friday, 19 December 2008

Berjaga-jagalah! 

”Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang…” (Mrk. 1:35). Demikianlah pesan Yesus kepada para murid-Nya. Pesan-Nya itu—menembus batas waktu dan ruang—berkumandang kembali di Minggu Adven.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) lema ”berjaga-jaga” memiliki dua arti. Arti pertama: ”tidak tidur semalam suntuk”. Masih menurut KBBI, pada zaman dahulu apabila raja mengawinkan anaknya, orang berjaga-jaga empat puluh malam lamanya. Arti berjaga-jaga di sini adalah lek-lekan. Sedangkan arti kedua: ”bersiap-siap”; ”bersiap sedia”; ”berawas-awas”; ”berhati-hati”. Sekilas pandang, pesan yang mengikuti perumpamaan Yesus (Mrk. 13:34) mengandung arti pertama tadi. Sang Guru menasihati murid-murid-Nya untuk berjaga-jaga karena mereka tidak mengetahui saat kedatangan-Nya yang kedua. 

Pertanggungjawaban 

Kedatangan Yesus yang kedua sama seperti ”seorang yang bepergian, yang meninggalkan rumahnya dan menyerahkan tanggung jawab kepada hamba-hambanya, masing-masing dengan tugasnya, dan memerintahkan penunggu pintu supaya berjaga-jaga” (Mrk. 13:34). Tersurat memang, penjaga pintu yang diminta berjaga-jaga. Tetapi, para hamba lainnya diberikan tanggung jawab seturut tugasnya. Ada tanggung jawab yang melekat dalam sebuah tugas. Tak heran, kalau sang tuan menuntut pertanggungjawaban. Dengan kata lain, setiap hamba harus memberi jawaban dan menanggung segala akibat (jika ada kesalahan). Itu merupakan hal logis. Di akhir tugas, setiap orang harus mempertanggungjawabkan semua pekerjaannya. Dalam perumpamaan itu memang tak ada kepastian waktu kedatangan. Itu berarti tanggung jawab dapat dituntut kapan saja. Oleh karena itu, para hamba itu harus selalu siap mempertanggungjawabkan semua tugas yang dipercayakan. Dalam segala keadaan mereka harus bersikap dan bertindak laiknya seorang hamba. Itu merupakan tindakan wajar karena para hamba itu tidak pernah tahu kapan tuannya datang. Ketidaktahuan itulah yang seharusnya menjadi alasan para hamba itu untuk siap sedia. Bagaimanapun, tuan tersebut pasti datang!Kalau sudah begini, tentunya ”berjaga-jaga” tak sekadar ”tidak tidur semalaman”. Arti kedua dalam KBBI mendapatkan tempatnya juga dalam perumpamaan itu. Berjaga-jaga berarti senantiasa siap menjalankan tugas kehambaan itu sebaik mungkin. Panggilan untuk ”berjaga-jaga” juga dialamatkan kepada kita, yang mengaku diri sebagai hamba Allah. Sebutan ”hamba Allah”, ”abdi Allah”, atau ”Abdullah” memang biasa terdengar dan enak didengar di kalangan Kristen.Namun, sebutan itu bukan tanpa konsekuensi. Sebutan itu mensyaratkan adanya keinginan dari penyandang sebutan itu untuk bertindak sebagai hamba tanpa syarat. Seorang hamba siap menanggungjawabi segala yang dimandatkan kepadanya kapan saja. 

Menanti-nantikan Allah

Nabi Yesaya mempunyai istilah yang menarik disimak. Dia menggambarkan Allah sebagai Pribadi yang bertindak bagi orang yang menanti-nantikan Dia (Yes. 64:4). Ya, menanti-nantikan Allah! Tentunya, orang yang menanti-nantikan Allah siap berhadapan dengan Allah kapan saja. Mereka siap memberi jawab seandainya Allah menanyakan sesuatu kepadanya. Menanti-nantikan Tuhan berarti hidup berdasarkan penantian akan kedatangan Tuhan. Orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan itu berarti siap mempertanggungjawabkan apa yang telah Tuhan percayakan kepadanya. Sikap menanti-nantikan Tuhan selaras pula dengan frasa ”datanglah kerajaan-Mu” dalam Doa Bapa Kami. Kedatangan Tuhan itu tidak hanya persoalan nanti dan di sana, tetapi juga persoalan kini dan di sini. Orang yang menanti-nantikan Tuhan tidak berorientasi pada kematiannya sendiri, di surga nanti, tetapi beroritentasi kepada kehidupannya, sekarang di bumi ini. Frasa ”datanglah Kerajaan-Mu” mengandaikan bahwa sang pengucap siap menjadi hamba dalam kerajaan-Nya. Dengan kata lain: hanya ada satu raja: Tuhan sendiri! Tak ada pula raja-raja kecil di sana. Semuanya hamba. Hanya ada satu raja, dan yang lainnya hamba! JIka Allah itu raja, maka hidup kita seharusnya merupakan persembahan kepada-Nya. Kabarnya, banyak orang mau mati untuk Tuhan. Tak hanya di kalangan Kristen. Di kalangan para teroris pun, tak sedikit orang yang siap mati untuk Tuhan. Namun, frasa ”datanglah kerajaan-Mu” mengandaikan bahwa kita tidak hanya siap mati—tetapi yang lebih penting ialah hidup—untuk Tuhan. 

Kekudusan Hidup

Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Korintus mengingatkan agar mereka—sebagai orang yang telah diperkaya oleh Tuhan—hidup tak bercacat dalam menantikan kedatangan Tuhan (I Kor. 1:8). Harta terbesar yang mereka miliki adalah keselamatan itu sendiri. Karena itu, mereka perlu menjaga keselamatan Allah itu dengan hidup kudus sebagaimana Tuhan, yang memanggil mereka, kudus!Pada titik ini kekudusan bukanlah perkara luar biasa. Kekudusan merupakan hal lumrah karena kita telah diperkaya dengan keselamatan Allah itu. Anehlah, jika kita sendiri tidak hidup di dalam, dan berdasarkan, keselamatan Allah itu. Hidup berdasarkan kesalamatan itu seperti hamba yang setia menjalankan tugasnya. Bersediakah kita mempertanggungjawabkan hidup kita? Jika jawabannya: ya; maka pesan bagi kita pun hanya satu: ”Berjaga-jagalah!” 

Yoel M. Indrasmoro*  



* Penulis adalah pendeta Gereja Kristen Jawa Jakarta

Last Updated ( Friday, 19 December 2008 )
 
Next >

Polls

Bagaimana menurut anda situs ini?
 
Hal apa yang harus ditingkatkan dalam situs ini?
 

Template Chooser

jc_crib_lite

Search

 

Copyright 2006 TMC-GKJ Jakarta

designed by www.madajimmy.com