| Pengakuan Dosa |
|
|
|
| Written by ymindrasmoro | |
| Saturday, 10 February 2007 | |
|
PENGAKUAN DOSA (Lukas 5:1-11; Yesaya 6:1-13) Simon terpana. Tak disangkanya, guru yang sehari sebelumnya menyembuhkan ibu mertuanya itu ternyata punya kuasa besar. Orang Nazaret itu tidak hanya mampu menyembuhkan penyakit, namun lebih dari itu Dia punya kuasa dan keahlian lebih dari nelayan danau Genesaret. Mulanya Simon sendiri enggan menjalankan perintah Yesus, tetapi tentunya dia merasa tidak enak hati dengan Orang yang pernah menyembuhkan mertuanya itu. Bagaimanapun, dia telah merasakan pertolongan orang Nazaret itu. Dia telah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Sang Guru memang punya kebolehan. Lagi pula, Simon merasakan bahwa begitu banyak orang yang menghormati-Nya sebagai guru. Mereka begitu antusias mendengarkan Sang Guru mengajar. Bayangkan, Sang Guru mengajar Orang banyak itu dari atas perahu! Dan menolak permintaan Sang Guru di hadapan penggemarnya, tentulah bukan hal yang patut. Namun demikian, Simon tidak bisa menyembunyikan pendapatnya. Dia tidak mau begitu saja menjalankan perintah Guru dari Nazaret itu. Ketika Yesus memintanya untuk bertolak ke tengah dan menebarkan jala, Simon menjawab, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Inilah yang dikatakan Simon. Mereka, para nelayan andal itu, telah bekerja sepanjang malam dan mereka tidak menangkap apa-apa. Mereka telah bekerja keras semalaman dan hasilnya nihil. Sebagai nelayan kawakan Simon tidak malu mengakui bahwa mereka telah gagal, tiada hasil. Dan sekarang ada bersama mereka seorang guru dari pegunungan Nazaret. Dia memang jago mengajar, tetapi jelas bukan nelayan. Dengan kata lain, Simon hendak menegaskan, “Lha wong, kami saja tak dapat menangkap ikan satu pun, apa lagi dengan Engkau! Namun, ini yang penting dalam kalimat yang dikemukakan Simon, ‘‘Tetapi, karena Engkau yang menyuruh kami taat!” Di sini kita bisa belajar bersikap sebagaimana Simon. Secara rasio dan pengalamannya selaku nelayan, mereka tak mungkin mendapatkan ikan lagi. Tetapi, ketaatan memang melampaui rasio, juga pengalaman. Ketaatan itulah yang hendak diperlihatkan Simon di sini. Dia taat meski hati dan otaknya sulit menerima perintah itu. Dan ketaatan itu membawa berkat. Tindakan Simon itu membuahkan hasil di luar dugaan Simon sendiri. Begitu banyak ikan yang tertangkap sehingga mereka perlu bantuan dari nelayan-nelayan lain. Ya, jala mereka sarat dengan ikan. Bahkan mulai koyak. Menarik untuk diperhatikan, ketika Simon menyaksikan peristiwa tersebut, dia tidak merasa sebagai orang yang diberkati. Dia tidak memuji-muji Yesus atas perbuatan-Nya itu. Dia juga tidak merasa bahwa dia pantas menerima semuanya itu. Tidak. Sama sekali tidak. Sebaliknya, yang dilakukan Simon ialah tersungkur di hadapan Yesus dan berkata, “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Simon merasa tak layak berdekatan dengan Yesus. Bahkan, Simon meminta Yesus segera menjauh darinya karena dia merasa berdosa. Kita tidak pernah mengetahui mengapa Simon bertindak begitu. Kita juga tidak pernah mengetahui secara persis apa dosa Simon yang membuat dia tersungkur di hadapan Yesus. Yang pasti, di hadapan Yesus, Simon mengakui keberadaannya sebagai manusia berdosa. Agaknya, kita perlu berhenti sejenak di sini dan bertanya dalam diri: “Seandainya Yesus hari ini hadir di hadapan kita dengan segala kemuliaan-Nya, bagaimanakah sikap kita? Apakah kita akan merasa bangga karena Tuhan bersama dengan kita? Apakah kita merasa memang sudah sepantasnya Tuhan bersama dengan kita, bukankah kita adalah anak-Nya. Bukankah namanya sendiri adalah Imanuel? Atau, sama seperti Simon kita mengakui keberadaan kita sesungguhnya sebagai manusia berdosa?” Pada titik ini kita bisa menyaksikan persamaan Simon dengan Yesaya. Di masa Perjanjian Lama nabi Yesaya berbuat hal serupa saat menyaksikan kemuliaan Allah. Dengan ketakutan Yesaya berkata, “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir...” (Yes. 6:5). Tampaknya, memang demikianlah yang seharusnya terjadi saat manusia bertemu dengan Allah. Pengakuan bahwa kita berdosa. Dan semuanya itu jelas bertolak belakang dengan kesucian Allah. Mengapa saya katakan seharusnya terjadi? Karena memang kenyataannya siapakah manusia yang bisa menyatakan bahwa dirinya bebas dari dosa? Mungkin ada. Tetapi, siapa pula yang dapat berkata bahwa dia bebas dari kecenderungan untuk berbuat dosa. Jawabnya: pasti tidak ada! Pengakuan dosa sejatinya memperlihatkan kembali kenyataan siapakah kita di hadapan Allah. Dan ini menjadi penting karena memang ada perbedaan hakiki antara manusia dengan Allah. Manusia adalah ciptaan Allah. Dan sebagai ciptaan dia adalah ciptaan yang telah jatuh ke dalam dosa. Sehingga, manusia cenderung untuk melakukan hal yang jahat di mata Tuhan. Dan pengakuan sebagai manusia berdosalah, yang pada akhirnya memperlihatkan bahwa Allah itu mahakasih. Allah memang membenci dosa, tetapi Dia mengasihi manusia berdosa. Dan Dia akan menerima manusia yang mengakui dosanya. Allah tidak akan membuang manusia yang mengakui dosanya. Dia menerima mereka apa adanya. Sekali lagi, karena Allah mengasihi manusia. Itulah yang terjadi dengan Yesaya dan Simon. Pengakuan dosa mereka membuat mereka diampuni. Dan memang pengampunan dosa hanya akan bermanfaat bagi orang yang mengaku dosanya. Tanpa pengakuan dosa, pengampunan dosa menjadi tak ada artinya. Sekali lagi, pengampunan dosa memang hanya diperuntukkan bagi setiap manusia yang mau mengakui dosanya. Kepada Simon, Yesus berkata, “Jangan takut!” Dan kepada Yesaya Yesaya, Allah berkata, “Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni.” Pada diri kedua orang ini jelaslah bahwa Allah memandang baik apa yang mereka katakan. Dan Allah siap mengampuni mereka. Allah siap memulihkan keberadaan mereka. Dan baru setelah pengampunan dosa itu, panggilan Allah dikumandangkan! Jika diperhatikan dengan saksama, tampaklah bahwa Allah tidak sembarang memanggil orang. baik Yesaya maupun Simon sama-sama memahami keberadaan dirinya di hadapan Allah. Mereka mengakui keberadaan mereka sebagai manusia berdosa. Dan pengakuan macam begini merupakan hal yang baik di mata Tuhan. Kalau mau bicara soal syarat, maka syarat utama seorang hamba Tuhan bukanlah kemauan maupun kemampuan manusia. Tetapi, jauh di atas semuanya itu apakah orang yang dipanggil itu memahami keberadaan dirinya di hadapan Allah. Dan panggilan diserukan setelah peristiwa pengakuan dosa tadi. Panggilan terhadap Yesaya tidak dikumandangkan sebelum, tetapi setelah Yesaya mengakui keberadaan sebagai manusia berdosa. Demikian pula dengan panggilan kepada Simon. Panggilan itu terjadi setelah dia menyatakan ketidaklayakannya di hadapan Tuhan. Yesus tidak langsung mengajak Simon untuk menjadi penjala manusia, tetapi panggilan itu ditujukan kepada Simon setelah nelayan andal itu berkata, “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Pengakuan akan keberdosaan diri bukanlah suatu sikap rendah diri, tetapi suatu sikap kerendahan hati. Dan kerendahan hati bersumber dari pengenalan diri. Orang yang mengenal dirinya cenderung akan bersikap rendah hati ketimbang orang yang tak mengenal dirinya sendiri. Jika Yeyasa dengan lantangnya menjawab panggilan Tuhan itu dengan perkataan: “Ini aku, utuslah aku!” (Yes. 6:8) dan jika Simon serta Yakobus dan Yohanes, menurut catatan Lukas mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus; sejatinya ini bukanlah bentuk kesombongan. Tetapi, ini adalah bentuk kepercayaan diri. Pengampunan dosa sesungguhnya akan membuat seseorang lebih percaya diri. Dan pengampunan dosa dimulai oleh pengakuan dosa. Sekali lagi, percaya diri bukanlah suatu kesombongan diri. Kesombongan diri biasanya bermula dari sikap rendah diri. Sedangkan rasa percaya diri bersumber dari sikap rendah hati. Dan karena mereka telah bersikap rendah hati, saat mengakui dosa, mereka menjadi lebih mampu untuk berkata, “Ini aku, utuslah aku!” Sekali lagi, jawaban atas panggilan ini bukanlah sesuatu sikap sombong, tetapi karena mereka merasa telah dipulihkan. Telah dipulihkan berarti pula bahwa mereka dipercaya menjadi hamba-hamba-Nya. Dan sikap logis yang timbul dari orang-orang yang dipercaya ialah menjawab panggilan itu dengan penuh kepercayaan diri. Jawaban Yesaya memang berbeda dengan jawaban Musa atau Yeremia. Musa berkata, “Aku tidak pandai bicara!” Yeremia berkata, ‘‘Aku masih muda!” Berbeda dengan keduanya, Yesaya berkata tegas, ‘‘Ini aku, utuslah aku!” Mengapa demikian? Sekali lagi, karena Yesaya telah merasakan bahwa dirinya telah diubah oleh Allah. Demikian pula dengan Simon. Dengan kata lain, mereka merasakan perubahan. Menurut Romo Gianto, Bagaimanapun juga pada saat-saat itu juga mereka dikuatkan. Bibir Yesaya dibersihkan. Yang kotor di-"bakar" habis, kesalahannya dihapus. Kepada Simon berkatalah Yesus, "Jangan takut!" Sapaan ini menghibur dan memberi kekuatan. Mereka boleh merasa lega di hadapan Yang Ilahi tanpa dirundung rasa gentar. Kini mereka mampu berbuat sesuatu. Yesaya bersedia diutus untuk menghadirkan Tuhan. Simon meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Yesus sepenuhnya. Pengalaman batin berjumpa dengan Tuhan dapat betul-betul menggerakkan orang dan membukakan lembaran baru dalam kehidupan. Orang tidak berhenti pada rasa terpukau atau gentar yang pasif melulu. Dan itulah yang memampukan mereka siap mengikuti Allah ke mana pun! Perubahan itulah yang memampukan mereka menjadi hamba-Nya? Itu jugalah yang membuat mereka siap menjadi penjala manusia. Lalu, apa yang dimaksudkan dengan frasa penjala manusia di sini? Frasa “(kau akan) menjala manusia” dapat diartikan “(kau akan) bekerja menangkap manusia-manusia untuk membawa mereka ke kehidupan”. Bila dipikirkan lebih lanjut, kata-kata Yesus itu berisi suruhan kepada Simon agar merenggut umat manusia dari kuasa maut. Penugasan seperti ini berarti pula ajakan ikut serta menjalankan karya Sang Juru Selamat sendiri. Menjala manusia artinya “merenggut umat manusia dari kuasa maut dan membawanya kepada kehidupan”. Kenyataan “maut” di sini bisa diartikan banyak: kemelaratan, kebodohan, ketakadilan, penindasan, perpecahan, tak adanya damai dan banyak lagi. Simon dan kawan-kawannya disuruh untuk merenggut manusia dari maut dan membawanya kepada Yesus. Supaya orang-orang yang dilayani menjadi pribadi yang merasa tak dilupakan Tuhan. Sejatinya, beginilah seharusnya tanggapan orang beriman terhadap Kristus yang bangkit yang dibicarakan Paulus dalam 1Kor 15:1-11. Bila tidak bisa mewujudkan keselamatan yang dapat dialami secara nyata, maka kata Paulus, kita ini "sia-sia saja menjadi percaya" (ayat 2). Dan semuanya itu dimulai dengan pengakuan dosa terlebih dahulu! Artinya, kita harus sungguh-sungguh diubah oleh Tuhan sendiri. pertanyaannya: Maukah kita diubah oleh Tuhan? Amin.
yoel m. indrasmoro
|
|
| Last Updated ( Monday, 02 April 2007 ) |
| < Prev | Next > |
|---|




