Default Screen Resolution Wide Screen Resolution
Home arrow Artikel arrow Panggilan
Panggilan PDF Print E-mail
Written by ymindrasmoro   
Saturday, 27 January 2007

Dalam Rubrik Klasika Kompas, Minggu 21 Januari 2007 saya temukan sebuah iklan sebagai berikut:

 

Dalam rangka pengembangan dan pembukaan cabang Sekolah Unggulan Nasional, Yayasan Pendidikan Jaya mengundang anda yang berprestasi tinggi dan berkompetensi baik di bidang pendidikan, untuk bergabung dalam team sebagai:

  1. Guru kelas TK-SD
  2. Guru Bidang Studi SD-SMP-SMA
  3. Guru Pendamping

            Lokasi:          

  1. Bintaro Jaya, Tangerang, Jakarta
  2. Sidoarjo, Surabaya, Jawa Timur

Persyaratan:

  1. Pria/wanita usia max 30 tahun.
  2. Minimum S1 sesuai jurusan + akta IV untuk non kependidikan
  3. Menguasai bahasa Inggris Lisan dan Tulisan
  4. Pengalaman KBK/KTSP dan Metode Internasional lebih diutamakan.

Mari kita bandingkan dengan panggilan Yeremia!

“Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, dan sebelum engkau lahir, Aku sudah memilih dan mengangkat engkau untuk menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” (Yer. 1:5).

Ada persamaan di antara keduanya? Pertama, keduanya merupakan panggilan. Artinya, ada pihak pemanggil. Yang satu sebuah yayasan, yang lainnya Allah. Sekali lagi ada yang manggil.

Kedua, inisiatif awal ada pada sang pemanggil. Pada kedua panggilan itu terlihat bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengusulkan dirinya terlebih dahulu. Baik pembaca Kompas yang akan merespons iklan tersebut maupun Yeremia tidak ada yang mengajukan dirinya terlebih dahulu. Mereka berada pada pihak penanggap dan bukan pemrakarsa.

Ketiga, keduanya memanggil orang untuk bekerja. Baik yang dipanggil yayasan maupun yang dipanggil Allah sama-sama dipanggil untuk bekerja. Tidak ada yang dipanggil untuk berpangku tangan menjadi penganggur. Mereka dipanggil untuk berkarya.

Perbedaannya: ada pada persyaratan. Pihak yayasan menetapkan persyaratan. Undangan itu tidak ditujukan kepada sembarang orang. Iklan tersebut ditujukan bagi orang yang berprestasi tinggi dan berkompetensi baik di bidang pendidikan. Ada kualifikasi umum di sini.

Tetapi, tak hanya berhenti di situ. Ada juga persyaratan khusus, yaitu: usia harus di bawah 30 tahun, sedikitnya S1 sesuai jurusan ditambah dengan akta IV untuk non kependidikan, mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris, dan lebih mengutamakan yang berpengalaman Kurikulum Berbasis Kompetensi dan metode internasional. Tegasnya, hanya orang yang punya kemampuan tertentulah yang akan diperhatikan.

Itu berarti kalangan yang berada di luar persyaratan itu seharusnya tidak menjawab panggilan itu karena akan menghabiskan biaya saja. Siapa pun yang tak memenuhi syarat sebaiknya mengabaikan saja iklan tersebut. Sebab, hanya akan berakhir pada kata sia-sia. Dengan kata lain, iklannya mempunyai syarat. Panggilannya bersyarat!

Panggilan kedua memang berbeda. Jika untuk posisi guru di Yayasan tersebut ada persyaratannya, maka untuk posisi nabi pada waktu itu di Israel bukan persyaratan yang diajukan tetapi sebuah pernyataan. Pernyataannya ialah Allah telah menetapkan Yeremia sebagai nabi sebelum membentuk Yeremia.

Jika sebagai guru masa kini ada persyaratannya, maka nabi di Israel masa lampau pun bukan tanpa syarat. Namun, persyaratan itu sudah dipenuhi pihak pemanggil. Ini hal yang menarik, persyaratan itu tidak dipenuhi oleh orang-orang yang akan dipanggil, tetapi dipenuhi Allah sendiri. Perhatikanlah kembali pernyataan panggilan itu: “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, dan sebelum engkau lahir, Aku sudah memilih dan mengangkat engkau untuk menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” Sekali lagi, Allahlah yang memenuhi persyaratannya.

Tersirat di sini, sebelum Allah membentuk Yeremia, Dia telah menetapkan Yeremia untuk menjadi nabi Allah. Beda bukan dengan iklan dalam media massa tadi? Iklan tadi mencari orang yang sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan. Tetapi, Allah membentuk orang agar sesuai dengan karya yang telah ditetapkan Allah baginya.

Dengan kata lain, Allah telah menetapkan seseorang untuk melakukan sebuah karya tertentu. Karena telah menetapkannya, Allah menciptakan orang tersebut agar mampu mengerjakan tugas yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Kisah Yeremia memperlihatkan kepada kita bahwa panggilan sejatinya hak prerogatif Allah. Artinya, alasan pemanggilan tersebut bukanlah pada orang yang dipanggil, melainkan pada Pribadi orang yang memanggil, yaitu Allah sendiri.

Pada kenyataannya, Allah punya alasan dalam pemanggilan itu. Dia tidak sewenang-wenang memanggil orang terlibat dalam pelayanan. Sekali lagi, dia telah menyiapkan orang tersebut agar dapat berkarya sesuai dengan panggilannya.

Sesungguhnya, inilah penghiburan bagi setiap orang yang dipanggil Allah menjadi pelayan-Nya dalam bidang apa pun. Jika Allah memanggil seseorang menjadi pelayan pada bidang tertentu, maka Dia akan mempersiapkan orang tersebut untuk mampu mengerjakan tugasnya dengan baik.

Bagaimanapun, Allah yang sempurna tidak ingin karya-Nya gagal di tengah gagal. Dan memang tidak mungkin gagal. Oleh karena itulah, Dia menciptakan seseorang untuk mampu menjadi mitra-Nya. Dengan demikian, janganlah takut jika Saudara berkesempatan menjadi pelayan Allah di ladang-Nya karena Allah akan memampukan Saudara bekerja sebaik mungkin.

Bicara soal panggilan, kadang manusia berpikir soal syarat: apakah dia memenuhi syarat atau tidak? Sejatinya, pola pikir semacam ini tak beda dengan iklan di Kompas tadi.

Kadang, orang sering mencoba merasionalisasi panggilan dengan pertanyaan: mengapa saya yang dipanggil? Pertanyaan ini merupakan hal baik jika tujuannya untuk lebih merenungkan lagi panggilan Allah itu. Tetapi menjadi soal, kalau pertanyaan tadi bertujuan untuk meyakinkan diri bahwa kita memang layak dipanggil. Ujung-ujungnya kesombongan pribadi. 

Sekali lagi, orang sering lupa, kalau Allah yang memanggil, Dia telah menyiapkan segala sesuatunya agar orang tersebut dapat berkarya optimal. Dan itu berarti bukan karena kita, tetapi hanya karena Dia!

Sehingga, sanggahan Yeremia – “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.” – menjadi sangat tidak relevan. Pengakuan Yeremia bahwa dia tidak pandai bicara tidak lagi menjadi soal karena Allah telah melengkapinya dengan kemampuan di bidang lain. Bahkan, kalau Yeremia merasa tidak punya kepandaian apa pun, yang juga perlu diingat ialah Allah telah menetapkannya sebelum dia lahir. Artinya, Allah telah menyiapkan Yeremia untuk dapat memenuhi panggilannya itu.

Bahkan, yang juga menarik untuk disimak ialah Allah telah siap menambal kekurangan Yeremia tadi. Perhatikan kembali janji Tuhan ini: “Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu.” (Yer. 1:9). Yeremia tidak perlu kepandaian bicara karena Allah sendirilah yang akan menaruh perkataan-perkataan-Nya ke dalam mulut Yeremia.

Tersurat bahwa Yeremia tak perlu menyusun bahan pembicaraan. Allah sendiri telah menempatkan bahan pembicaraan itu pada mulut Yeremia. Dengan kata lain, Yeremia tinggal membuka mulutnya saja. Persoalan tentulah menjadi lain seandainya Yeremia mengunci mulutnya sendiri. Jadi, Yeremia tinggal membuka mulutnya saja karena bahan pembicaraan telah dipersiapkan Allah.

Pertanyaannya sekarang ialah apakah Anda merasa dipanggil sebagai nabi Allah? Panggilan Allah tidak berarti bahwa Allah sendirilah yang harus berbicara kepada Saudara. Allah bisa memanggil melalui orang lain, gereja-Nya, atau instansi lain. Dan panggilan Allah juga tidak berarti bahwa Anda harus melakukan suatu kegiatan rohani. Jangan batasi panggilan Tuhan pada kegiatan gerejawi saja!

Saya hendak menegaskan di sini bahwa pekerjaan sekuler pun harus Saudara pandang sebagai panggilan. Pertanyaannya: Apakah Anda mengamini bahwa pekerjaan Saudara merupakan panggilan khusus Allah dalam diri Saudara? Ini tidak hanya untuk orang yang bekerja formal atau kantoran, ibu rumah tangga pun merupakan panggilan Tuhan!

Kalau Saudara meyakini bahwa pekerjaan Saudara merupakan panggilan Allah, janganlah cemas saat Saudara merasa beban pekerjaan terlalu berat. Jika Saudara meyakini bahwa pekerjaan Saudara sekarang adalah panggilan Tuhan, maka Tuhan telah memperlengkapi Saudara untuk menanggung semua beban tersebut.

Mungkin pertanyaan yang layak diajukan ialah bagaimana caranya kita tahu bahwa pekerjaan kita sungguh-sungguh merupakan panggilan Tuhan bagi kita? Cara mengujinya bisa dengan bertanya: Apakah kita merasa dipanggil menjadi nabi di tengah pekerjaan kita sekarang ini?

Menjadi nabi berarti senantiasa siap menyatakan apa yang Tuhan kehendaki! Menjadi nabi berarti siap menerangi dan menggarami tempat kerja Saudara! Menjadi nabi berarti sungguh-sungguh mau bertindak seperti Yeremia: untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam! Menjadi nabi berarti menjadi kawan sekerja Allah  di tempat kerja Saudara!

Bagaimana dengan para pensiunan? Sejatinya, para pensiunan pun bisa menjadi nabi selama mereka mau menyatakan kebenaran tidak hanya dengan omongan, terlebih dengan tindakan. Dan berkaitan dengan para pensiunan, berbahagialah Saudara jika masih berkesempatan membina generasi muda dalam diri cucu atau cicit Saudara. Bagaimanapun, cucu dan cicit Saudara memerlukan arahan untuk tetap hidup dalam kebenaran Tuhan.

Caranya? Yakinkan mereka untuk tetap hidup dalam kebenaran Tuhan sebagaimana Saudara hidup. Yakinkan mereka bahwa hidup dalam kebenaran Tuhan merupakan pilihan hidup yang rugi untuk ditolak. Jika mereka bertanya: mana buktinya, maka Saudara bisa menjawab: Saya buktinya!

Menjadi nabi Allah berarti bersikap merdeka. Menjadi nabi Allah berarti melakukan apa yang Allah kehendaki, dan bukan apa yang dikehendaki orang lain. Orang kadang sering menuntut ini dan itu. Bisa saja orang menuntut Saudara untuk melakukan sesuatu. Anda pun mungkin mampu melakukannya. Tetapi, seorang nabi Allah lebih mendengarkan perkataan Allah ketimbang perkataan orang lain.

Dan itulah yang terjadi di Nazaret. Orang ingin Yesus melakukan mukjizat di daerahnya sendiri. Pertanyaan retorik itu – Bukankah Ia ini anak Yusuf? – menyiratkan bahwa mereka ingin Yesus melakukan mukjizat seperti di kota-kota lain. Dengan kata lain, jika Yesus melakukan penyembuhan di banyak tempat, masak Dia tidak mau mengadakan mukjizat di kota masa kecil-Nya?

Tetapi, bisa jadi mereka juga ingin Yesus membuktikan diri-Nya sebagai orang yang sanggup membuat mukjizat. Selama ini mereka mendengar kehebatan Yesus, dan sekarang mereka ingin menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri. Mereka hanya ingin bukti! Dan untuk semua alasan itu, Yesus punya satu jawaban: tidak.

Pada titik ini Yesus tidak tergoda untuk membuktikan diri di hadapan teman-teman sepermainan-Nya. Yesus tidak tergoda untuk membuktikan kehebatan-Nya di hadapan orang-orang yang pernah mengenal-Nya. Bahkan, Yesus siap jika orang-orang Nazaret itu menyebut-Nya kacang lupa kulit.

Di sini Yesus tidak melakukan sesuatu seturut dengan kata orang. Yesus merupakan pribadi merdeka. Tetapi, itu tidak berarti bersikap dan bertindak sesukanya. Bagaimanapun, Yesus merupakan pribadi yang taat kepada Bapa-Nya.

Kalau Yesus melakukan mukjizat bukan untuk memuaskan keinginan orang, melainkan agar semakin banyak mungkin orang mengenal dan memuliakan Allah. Jika kita perhatikan semua mukjizat Yesus, di akhir kisah mukjizat itu senantiasa ada, setidaknya satu orang, yang bersyukur kepada Allah. Jadi, semua mukjizat itu dilakukan Yesus bukan buat pamer. Juga bukan untuk mendapatkan tepuk tangan. Tetapi, sekali lagi agar semakin banyak orang mengenal dan memuliakan Allah. Dalam pengertian ini, Yesus memang tidak sembarangan membuat mukjizat.

Dan akhirnya, menjadi nabi Allah berarti siap ditolak!

 

ym indrasmoro

Last Updated ( Tuesday, 30 January 2007 )
 
< Prev   Next >

Polls

Bagaimana menurut anda situs ini?
 
Hal apa yang harus ditingkatkan dalam situs ini?
 

Template Chooser

jc_crib_lite

Search

 

Copyright 2006 TMC-GKJ Jakarta

designed by www.madajimmy.com