| Pendidikan Kristiani Sebagai Ajang Pembaruan |
|
|
|
| Written by ymindrasmoro | |
| Saturday, 27 January 2007 | |
|
Pendidikan Kristiani sebagai Ajang Pembaruan (Lukas 4:14-21 dan Neh. 8:1-3, 5-6, 8-10)
Marilah kita memahami perikop ini dari sudut Pendidikan Kristiani! Pertama, arahkanlah hati dan pikiran kita kepada Yesus. Dia sedang naik daun saat itu. Lukas mencatat bahwa kabar tentang Yesus telah tersebar di seluruh Galilea. Orang banyak mulai mengenalnya sebagai guru bukan sembarang guru. Sebagai guru, tugas Dia memang mengajar. Dan banyak orang memuji cara Yesus, orang Nazaret itu, mengajar! Saya tidak pernah tahu persis bagaimana metode pengajaran Yesus. Namun, saya duga banyak orang yang merasa disapa oleh-Nya. Guru yang baik memang harus menyapa naradidiknya. Dan untuk mampu menyapa naradidik, seorang guru harus sungguh-sungguh mengenal naradidiknya. Sehingga, bahan ajar yang diberikan itu tidak terlalu rendah, yang akan membuat para murid bosan; tetapi juga tidak terlalu tinggi, yang dapat membuat naradidik frustrasi. Bahan ajar yang tepat, sesuai dengan kemampuan naradidik, itu pulalah yang seharusnya dilakukan gereja sepanjang abad. Gereja, sebagai lembaga pendidikan, harus memedulikan umatnya. Gereja tidak boleh menutup mata terhadap keberadaan naradidik. Artinya, gereja perlu mengenal keberadaan umat. Hal inilah yang akan membuat umat merasa disapa, seturut dengan kemampuan masing-masing. Kedua, meski sedang naik daun, dianggap sebagai seorang pengajar kampiun, Yesus, Sang Guru, tidak mengajar sesuka hatinya. Dia mengikuti kurikulum yang berlaku di dalam rumah ibadah tersebut. Itulah yang dilakukan Yesus. Ketika hari Sabat, Yesus tidak mengajar menurut seleranya sendiri. Tidak. Dia mengikuti pembacaan pada waktu itu. Lukas mencatat: “Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Kitab Suci. Kepada-Nya diberikan kitab Nabi Yesaya dan setelah membuka kitab itu, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis…” (Luk. 4:16-17). Dalam catatan Lukas tadi jelaslah bahwa Yesus sangat patuh pada kurikulum. Yesus tidak menolak ketika petugas rumah ibadah memberikan kitab Yesaya kepada-Nya. Yesus tidak membuat kurikulum sendiri. Persoalan pendidikan nasional, pada hemat saya bukanlah hanya bertumpu pada kurikulum. Saya termasuk golongan orang yang tak menyetujui sikap dan tindakan pemerintah yang suka gonta-ganti kurikulum. Jawaban atas buruknya pendidikan nasional bukan melulu pada kurikulum. Jika pendidikan nasional disimpulkan buruk, maka pertanyaan yang perlu diajukan: Apakah kurikulum, yang dianggap buruk itu, sudah dipatuhi? Jika belum, ya dipatuhi! Jangan mudah gonta-ganti kurikulum! Kurikulum hanyalah alat. Oleh karena itu, para guru perlu mematuhi kurikulum itu, tentunya dengan tidak mengurangi kreativitas guru. Dan itulah yang dilakukan Yesus. Dia tidak menolak menggunakan kurikulum di tempat ibadah tersebut. Ketika kepada-Nya disodori kitab Yesaya, Yesus tidak menolaknya. Dia membacakan kitab tersebut dan mengajar berdasarkan bacaan pada waktu itu. Gereja perlu meneladani Sang Guru dalam hal ini. Gereja memang perlu kurikulum yang baik. Dan yang juga penting setiap orang yang berkesempatan menjadi guru harus mematuhi kurikulum itu sebaik mungkin. Tentunya, sekali lagi, tidak mengurangi kreativitas para guru. Ini jugalah alasan mengapa GKJ Jakarta menggunakan bahan bacaan seturut lectionary. Dengan menggunakan lectionary, setiap minggunya kita akan mengumandangkan mazmur, surat-surat rasuli, Perjanjian Lama, dan Injil. Semua bacaan itu sesuai dengan tahun gerejawi. Setiap pengkhotbah di GKJ Jakarta harus berpatokan dengan lectionary ini. Jadi, tidak sekehendak hati si pengkhotbah! Kalau dalam tata ibadah dicantumkan penjelasan tema ibadah, itu tidak dimaksudkan untuk memasung kreativitas para pengkhotbah. Bukan. Bukan itu. Tetapi, agar para pengkhotbah mempunyai tujuan yang sama. Mungkin ada orang yang protes dan berkata, “Bukankah itu berarti kita mengekang Roh Kudus?” Jawabnya, bukan untuk membatasi Roh Kudus, tetapi untuk mengarahkan kemanusiawian kita, yang kerap liar tanpa arah! Dan sekali lagi, untuk menjaga agar pengkhotbah tidak hanya mengkhotbahkan apa yang disukainya! Dengan cara ini pula, tak ada lagi ayat mas atau perikop favorit. Semuanya sama. Sama-sama Firman Tuhan. Ketiga, Yesus, Sang Guru, piawai menghubungkan teks Kitab Suci dengan kekinian. Artinya, Yesus tidak berbicara di awang-awang. Dia menghubungkan kitab Yesaya itu dengan kenyataan sekarang. Bahkan, Yesus mengaitkan kitab Yesaya itu dengan diri-Nya sendiri. Demikianlah catatan Lukas: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” (Luk. 4:21). Mari kita dengarkan kembali kitab Yesaya itu: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” (Luk. 4:18-19). Tampaknya, Yesus, Sang Guru, berupaya untuk menjelaskan misi-Nya di sini. Jangan lupa, Dia telah menjadi sosok terkenal. Bisa dimaklumi ada orang yang bertanya-tanya tentang misi Sang Guru dari Nazaret itu. Dan Sang Guru tidak berupaya menyembunyikannya. Dia menjelaskan bahwa semua yang dilakukan-Nya itu bersumber pada Roh Tuhan. Jadi jika Yesus melakukan banyak hal yang dianggap hebat, semuanya itu tidak bersumber dari kemanusiawian-Nya belaka, tetapi karena Roh Tuhan. Jadi, semua yang Yesus lakukan bersumber pada Roh Tuhan! Dalam hal ini Yesus hendak mengajarkan bahwa semua hal baik itu tidaklah berasal dari manusia, tetapi Allah yang mengaruniakan kepada setiap orang untuk melakukannya. Manusia hanyalah alat. Kalau menggunakan istilah Ibu Teresa: “Manusia hanyalah pensil di tangan Allah.” Dan memang pensil itu hanya akan berguna jika mau dipakai Allah. Pensil hanyalah pensil. Tidak akan bermanfaat apa pun, jika tidak dipakai untuk menulis. Dan pensil baru terasa gunanya jika dipakai untuk menulis oleh manusia. Pensil tidak bisa menggerakkan dirinya sendiri untuk menulis. Pensil akan memberikan kegunaannya kalau mau dipakai oleh Allah. Dengan kata lain, Yesus hendak menegaskan bahwa setiap orang yang dikarunia Roh Tuhan, janganlah hanya diam berpangku tangan. Yesus tidak bertopang dagu. Guru dari Nazaret itu melakukan banyak hal! Tak hanya dengan omongan, juga dalam tindakan. Tetapi, janganlah kita lupa bahwa tanggung jawab pembelajaran tidaklah melulu pada diri guru, naradidik juga dituntut tanggung jawab yang sama. Inilah hal keempat yang penting dalam proses belajar, yaitu kesungguhan naradidik. Minat menjadi hal yang penting dalam pembelajaran. Kehebatan sang guru tak akan berdampak jika dalam diri naradidik sendiri tidak ada minat untuk belajar. Inilah catatan Lukas: “… dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya.” (Luk. 4:20). Minat seseorang dapat dilihat dari matanya. Dan mata para peserta ibadah itu tertuju kepada Yesus. Mata mereka tidak menatap ke arah lain. Mereka hanya menatap Yesus. Dan ini merupakan salah satu metode belajar yang baik, yakni dengan menatap. Pandangan ditujukan kepada guru. Menatap akan memampukan kita berkonsentrasi. Menatap juga memperlihatkan hasrat kita dalam menerima pelajaran. Sebagai guru, saya selalu suka menatap naradidik karena dari situlah saya dapat menilai hasrat mereka. Dan itulah yang terjadi di Nazaret. Mereka menatap Yesus. Mereka ingin mendapatkan sesuatu dari-Nya. Bicara soal minat kita bisa meneladani bangsa Israel pasca pembuangan. Marilah kita perhatikan kembali catatan Nehemia: ”Ketika tiba bulan yang ketujuh, sedang orang Israel telah menetap di kota-kotanya, maka serentak berkumpullah seluruh rakyat di halaman di depan pintu gerbang Air. Mereka meminta kepada Ezra, ahli kitab itu, supaya ia membawa kitab Taurat Musa, yakni kitab hukum yang diberikan TUHAN kepada Israel.” (Neh. 8:1-2). Ada kata serentak dalam catatan Nehemia. Artinya, secara spontan seluruh rakyat berkumpul. Mereka bukan hendak demonstrasi. Tetapi, mereka meminta Ezra, ahli kitab, untuk membacakan kitab Taurat bagi mereka. Mereka ingin mendengarkan Taurat. Lihatlah betapa antusiasnya mereka! Mereka ingin mengerti Taurat. Mereka ingin mengetahui apa yang Tuhan inginkan dari mereka. Keinginan mereka ini cukup beralasan. Agaknya mereka sadar bahwa peristiwa pembuangan yang mereka alami bukanlah hanya karena Israel kalah perang. Tidak. Mereka menyadari bahwa peristiwa pembuangan itu tidak lepas dari hukuman Tuhan karena Israel tidak lagi mematuhi perintah Tuhan. Oleh karena itu, sebagai orang yang telah diselamatkan dari pembuangan itu dan yang telah menyaksikan bagaimana Tuhan berkarya dalam membangun tembok Yerusalem, merasa perlu untuk kembali kepada Taurat. Mereka ingin mencari kehendak Tuhan. Di sini jelas, mereka membutuhkan Taurat. Memahami kehendak Allah telah menjadi kebutuhan. Sehingga, tanpa paksaan siapa pun mereka, bahkan seluruh rakyat, berkumpul dan meminta Ezra untuk membacakan kitab Taurat bagi mereka. Menarik pula untuk disimak, bahwa mereka meminta para pemimpin mereka untuk mengajar mereka. Artinya, para pemimpin diminta untuk lebih paham ketimbang mereka. Nggak mungkin bukan sang pengajar tak tahu apa-apa. Pada titik ini, Taurat bukanlah konsumsi rakyat, tetapi juga para pemimpin. Dengan kata lain, memahami kehendak Tuhan itu bukan hanya urusan rakyat, tetapi juga para pemimpin. Dan tidak tanggung-tanggung dari pagi hingga tengah hari. Mereka tetap antusias. Mereka tidak hanya ingin mendengarkan Taurat, tetapi mereka juga menuntut kejelasan dari apa yang telah dibacakan. Kita perlu bertanya di sini, apakah kita juga punya minat yang besar dalam memahami kehendak Tuhan? Belajar memang bukan hal yang menyenangkan. Belajar memang melelahkan. Tetapi, kata lelah agaknya tidak ada dalam kamus mereka karena adanya kebutuhan dalam diri! Dan sejatinya setiap orang memang perlu belajar. Setiap orang harus memperbarui dirinya. Pembaruan diri hanya akan terjadi melalui pembelajaran. Dan bicara soal pembaruan diri, skalanya memang seharusnya nasional. Tetapi, sebuah sistem besar terdiri atas sistem yang lebih kecil. Dan setiap sistem yang lebih kecil terdiri atas individu-individu, yakni saya dan Saudara. Di sini kita bisa kembali berkaca. Apakah Saudara merasa cukup dengan ibadah saban minggu? Jika Saudara merasa kurang, maka Saudara dapat melakukan pemahaman Alkitab sendiri di rumah atau kelompok. Telah banyak buku-buku renungan yang dapat menolong kita. Tujuannya sederhana agar kita dapat lebih peka terhadap kehendak Tuhan. Berkaitan dengan kebutuhan akan Alkitab kita termasuk golongan manusia yang berbahagia karena relatif lebih mudah membaca Alkitab, entah dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Jawa. Di tempat-tempat lain di Indonesia masih banyak umat Kristen yang sulit mendapatkan Alkitab dalam bahasa ibunya atau dalam bahasa nasional. Oleh karena itu, kegiatan Satu Dalam Kasih dicanangkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia! Kita bisa menyaksikan bagaimana antusiasnya mereka menyambut Alkitab dalam bahasa mereka sendiri. Tujuannya satu: agar lebih dapat memahami kehendak Tuhan! Dan bicara soal kehendak Tuhan, bukankah ini pula yang kita panjatkan setiap minggu: Jadilah kehendak-Mu! Amin.
ym indrasmoro |
|
| Last Updated ( Wednesday, 14 February 2007 ) |
| < Prev | Next > |
|---|




