Default Screen Resolution Wide Screen Resolution
Home arrow Artikel arrow Menggirangkan Hati Tuhan
Menggirangkan Hati Tuhan PDF Print E-mail
Written by ymindrasmoro   
Monday, 15 January 2007

(Yesaya 62:1-5; Yohanes 2:1-11)

“Demikianlah Allahmu akan girang hati atasmu” (Yes. 62:5). Baik hati maupun pikiran saya sangat terkesan dengan kalimat ini. Bayangkan, Allah girang hati melihat umat-Nya! Allah bahagia melihat keadaan Israel. Tuhan senang menyaksikan keadaan Israel. Umat Tuhan, yang dikenal tegar tengkuk atau keras kepala itu, menyukakan hati Tuhan. Dan hal ini sejatinya merupakan suatu perubahan radikal.

Nubuat ini sesungguhnya berbicara tentang Israel pascapembuangan. Pada awalnya nubuat Yesaya selalu berorientasi pada hukuman atas Israel. Ya hukuman karena Israel telah mendukakan Tuhan. Israel telah mengkhianti Tuhan. Israel tak lagi memuliakan Tuhan, bahkan berpaling dari Tuhan. Israel menyembah Allah lain. Dan karena itulah Tuhan menghukum umat-Nya.

Tuhan menghukum umat-Nya karena Allah adalah Pribadi yang suci dan senantiasa menuntut umat-Nya untuk hidup dalam kesucian. Allah, yang telah menyelamatkan Israel menuntut agar Israel bersikap sebagai hamba Tuhan. Dan persoalannya ialah Israel tidak lagi bersikap sebagai hamba Tuhan. Mereka bersikap semaunya sendiri. bahkan mereka telah mengangkat diri mereka sebagai Tuhan atas diri mereka sendiri. Pada titik ini mereka tidak lagi merasa perlu membutuhkan Tuhan. Oleh karena itulah, Tuhan menghukum Israel.

Namun demikian, yang juga menarik untuk disimak, Allah tidak akan selama-lamanya menghukum Israel. Allah berjanji akan melepaskan Israel. Allah berjanji akan menyelamatkan Israel. Allah memang membenci dosa, tetapi Dia mengasihi umat yang berdosa. Inilah kabar baik itu. Inilah Injil itu: Allah membenci dosa, namun mengasihi manusia berdosa. Allah mengasihi umat-Nya.

Yang lagi-lagi menarik untuk disimak ialah nama Yesaya berarti Allah menyelamatkan atau Allah itu penyelamat. Nama nabi yang hidup pada abad ke-8 sM memang sesuai dengan pesan yang dibawanya. Kitab Yesaya memang tak hanya berisi penghukuman atas Israel, tetapi Allah menjanjikan penyelamatan. Allah berjanji bahwa diri-Nya akan menebus Israel.

Dan sebagai bangsa yang telah ditebus sebanyak dua kali, dari Mesir dan dari Babel, Yesaya mengingatkan bangsa itu untuk hidup dalam penebusan itu. Dengan kata lain, Israel harus hidup sebagai hamba Tuhan. Dan satu-satunya cara hidup sebagai hamba Tuhan ialah menggirangkan hati Tuhan.

Memang Israel akan dijadikan seperti mahkota keagungan di tangan TUHAN, namun persoalannya masih tetap sama: apakah Israel akan tetap hidup sebagai mahkota indah itu atau tidak. Allah memang berkenan menyelamatkan Israel, dan pertanyaan berikutnya ialah apakah Israel mau hidup dalam perkenanan itu. Artinya, apakah Israel sungguh-sungguh menyenangkan hati Tuhan.

Dengan kata lain apakah Israel mau menghadirkan keselamatan (syalom) yang “bersinar seperti cahaya” dan “menyala seperti suluh.” Israel memang telah diselamatkan, dan pertanyaan selanjutnya ialah apakah mereka mau bertindak seperti obor yang menyala di waktu malam sehingga makin banyak orang yang merasakan keselamatan Allah itu.

Mari kita perhatikan kalimat tadi: menyala seperti suluh. Tentunya, kita tahu bahwa suluh hanya akan berfungsi jika menyala. Jika suluh tetap dalam keadaannya, tidak dinyalakan, maka dia tidak akan ada gunanya sama sekali. Pada kenyataannya, suluh itu memang berguna, tetapi jangan lupa jika dan hanya jika menyala.

Sejatinya, manusia adalah makhluk terang. Manusia diciptakan Tuhan untuk hidup dalam terang. Manusia bukanlah makhluk malam yang terbiasa dalam gelap. Kalau dipikir-pikir, manusia hanya kuat 8 jam saja hidup dalam gelap. Itu pun saat dia tidur! Sehingga, terang merupakan hal yang penting dan mendasar dalam kehidupan manusia.

Israel diminta untuk bercahaya karena memang itulah kebutuhan dasar manusia. Jika umat berbuat demikian, maka hidup mereka akan menjadi saksi kebenaran dan orang akan menghargai umat Tuhan.  Umat akan dikenal dengan identitas baru (‘mendapat nama baru’), sehingga Tuhan dimuliakan. Dan itulah yang menggirangkan hati Allah.

Itulah yang terjadi di Kana. Penulis Injil Yohanes menutup kisah Perjamuan di Kana dengan “Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.” (Yoh. 2:11).

Kisah Perjamuan di Kana intinya memang soal kepedulian. Di Kana, ada kepedulian Maria terhadap pesta kawin itu. Maria tidak ingin suasana bahagia pesta kawin menjadi ajang gosip karena ada orang yang tidak kebagian anggur. Maria ingin suasana bahagia tetap dirasakan oleh pemangku hajat, terutama sepasang pengantin itu. Oleh karena itu, Maria merasa perlu melakukan sesuatu. Dia meminta Yesus untuk bertindak.

Di Kana ada pula kepedulian Yesus. Meski belum tiba bagi Yesus untuk memperlihatkan diri-Nya di muka umum. Yesus tidak kukuh dengan pendiriannya. Yesus mau memajukan waktunya. Tampaknya, mukjizat yang dilakukan-Nya itu memang bukan hanya karena dorongan Sang Ibu. Yesus pun peduli.

Di Kana terlihat pula sikap taat dari pelayan-pelayan yang ada di situ. Kita tidak pernah tahu siapa mereka. Penulis Injil Yohanes tidak pernah memberitahukan identitas mereka. Tetapi, para pelayan itu menaati apa yang diperintahkan Yesus. Mereka tidak menolak saat Yesus meminta mereka mengisi tempayan-tempayan itu penuh dengan air. Penulis Injil Yohanes mencatat: “Dan mereka pun mengisinya sampai penuh.” (Yoh. 2:7).

Terlihat jelas, mereka taat. Mereka tidak bertanya. Mereka hanya menjalankan perintah. Mereka serius menjalankan perintah tersebut.

Mungkin kita akan berkata, “Namanya juga pelayan, ya harus taat!” Saya sepakat dengan pendapat tersebut. Tetapi, kita sama-sama tahu ada juga pelayan yang tidak taat. Ada pelayan yang ogah-ogahan dalam menjalankan tugasnya. Ada pelayan yang tidak serius. Ada pelayan yang menganggap kerjanya itu sebagai beban semata. Sehingga ketika ada tambahan pekerjaan mereka sering menolaknya.

Jangan lupa! Yesus bukanlah majikan mereka. Mereka bisa saja menolak Yesus. Sebagai pelayan, mereka toh sudah capek. Dan sekarang Yesus meminta mereka untuk memenuhi tempayan itu penuh dengan air. Ini ‘kan namanya tambahan pekerjaan. Dan mereka pastilah tidak akan mendapat tip dari kerja tambahan itu. Tak ada uang lembur di sini.

Satu tempayan berisi antara 80-120 liter air. Jika satu ember berisi 5 liter air, dan dua tangan hanya mampu mengangkat dua ember, maka satu pelayan membutuhkan sedikitnya 8 rit (bolak-balik) untuk satu tempayan. Dan di situ ada 6 tempayan. Artinya, kalau hanya ada 2 pelayan maka dibutuhkan 24 rit. Artinya, mereka 24 kali bolak-balik antara sumur dan tempayan. Penulis memang tidak menceritakan dengan jelas berapa jarak antara sumur dan letak tempayan itu.

Dan mereka melakukannya. Mereka mengisi 6 tempayan itu hingga penuh. Ini masalah ketaatan. Ada ketaatan di Kanaan yang memungkinkan mukjizat terjadi di kana.

Setelah mengisi tempayan-tempayan itu, Yesus memerintahkan para pelayan itu untuk mencedoknya dan membawa ke pemimpin pesta. Ini memang bukan masalah sederhana. Merekalah saksi bahwa tempayan itu berisi air. Dan Sekarang Yesus meminta mereka untuk membawa air itu ke pemimpin pesta.

Mungkin mereka bingung. Mungkin mereka bertanya-tanya dalam hati. Mungkin mereka takut kalau-kalau diomeli pemimpin pesta. Ya, masak pemimpin pesta diminta untuk mencicipi air itu. Ya, kalau pemimpin pesta itu menganggap mereka bercanda. Ya, kalau dia mau diajak bercanda. Kalau tidak ‘kan cari penyakit namanya.

Tetapi, sekali lagi penulis Injil Yohanes mencatat: “Lalu mereka pun membawanya.” (Yoh. 2:8). Jelaslah, mereka tetap bersikap dan bertindak selaku pelayan. Mereka taat. Mereka paham akan jati diri mereka. Sebagai pelayan, ya tugasnya melayani. Bahkan mereka bersedia melakukan apa saja demi memenuhi panggilan mereka selaku pelayan.

Kita sering berbicara soal panggilan. Tetapi, pertanyaannya ialah apakah kita memenuhi panggilan kita? Menarik untuk disimak kalimat ini: memenuhi panggilan. Artinya, kita bisa saja menolak panggilan. Tetapi, yang sering terjadi menjalani panggilan itu, namun tidak penuh. Tidak seratus persen. Bahkan, yang namanya 99% juga tidak 100%. Tidak total.

Mengapa mereka melakukannya? Pertama mereka taat. Mereka memenuhi panggilan mereka selaku pelayan. Namun, agaknya mereka juga ingin terlibat dalam menyelamatkan pesta itu. Dengan kata lain mereka peduli.

Mereka mungkin tahu kegelisahan Maria, mereka mungkin mendengar percakapan Maria dan Yesus, dan yang pasti mereka ingin berbuat sesuatu untuk menyelamatkan pesta itu.

Sejatinya, sama seperti Maria dan Yesus, mereka pun prihatin dengan pesta itu. Mereka tidak ingin menyaksikan pesta itu berantakan. Mereka ingin melihat pengantin itu berbahagia di hari bahagia mereka. Mereka ingin membahagikan orang lain. Mereka senang melihat orang lain bahagia.

Membahagiakan pihak lain, itulah sesungguhnya hakikat pekerjaan Allah. Kalau Allah menyelamatkan Israel, pastilah Dia ingin membuat Israel berbahagia. Dan serentak dengan itu, Allah juga ingin melalui Israel semakin banyak orang berbahagia. Itulah yang dilakukan Maria, Yesus, dan para pelayan.

Dalam kalimat lain, mereka ingin terlibat dalam pekerjaan Allah. Mereka ingin menjadi rekan sekerja Allah. Mereka ingin menjadi mitra Allah. Dan inilah yang menggirangkan hati Allah.  

 

ym indrasmoro

Last Updated ( Wednesday, 17 January 2007 )
 
< Prev   Next >

Polls

Bagaimana menurut anda situs ini?
 
Hal apa yang harus ditingkatkan dalam situs ini?
 

Template Chooser

jc_crib_lite

Search

 

Copyright 2006 TMC-GKJ Jakarta

designed by www.madajimmy.com