| Terang Itu Sudah Datang |
|
|
|
| Written by ymindrasmoro | |
| Saturday, 23 December 2006 | |
|
"Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan."(Lukas 2:10-12)
Tema Malam Natal tahun ini Terang Itu Sudah Datang! Hanya empat kata. Tak banyak. Tetapi, dalam empat kata ini terkandung sejarah. Ya, sebuah sejarah. Tema ini menyatakan kenyataan sejarah. Ada kata sudah dalam tema Natal kali ini. Sejarah senantiasa berkaitan dengan semua yang sudah. Artinya, sesuatu yang pernah terjadi di masa lampau.. Terang itu sudah datang! Dan terang itu merupakan sumber kegembiraan manusia. Mengapa? Pada dasarnya semua manusia memang makhluk terang. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang membutuhkan terang. Jika dianalisis, manusia normal paling banter hanya betah lima jam dalam kegelapan. Yaitu, saat dia tidur. Dalam keadaan terjaga manusia butuh terang. Tak heran jika Yesaya bernubuat: “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. Engkau telah menimbulkan banyak sorak-sorak, dan sukacita yang besar; mereka telah bersukacita di hadapan-Mu, seperti sukacita di waktu panen, seperti orang bersorak-sorak di waktu membagi-bagi jarahan.” (Yes. 9:1-2). Yesaya bernubuat bahwa terang itu membuat manusia bersorak-sorak. Mereka tak lagi hidup dalam kelam. Mereka tak lagi meraba-raba dalam gelap. Terang menolong mereka untuk mengambil keputusan secara tepat dalam hidup. Terang membuat mereka merasa lebih pasti dalam mengambil keputusan! Nasihat bagi seorang pendaki gunung yang tersesat di tengah hutan dalam gelapnya malam, tanpa alat penerang di tangannya hanya satu: Tidur! Nasihat yang logis karena tak ada gunanya memaksa diri mencari jalan setapak. Lha wong semua serba gelap! Mending tidur untuk mengumpulkan tenaga! Carilah jalan saat mentari muncul di pagi hari. Hanya dengan itulah kita mampu melihat jalan-jalan secara lebih jelas. Tak ada gunanya memaksa diri mencari jalan dalam gelapnya malam. Kemungkinan besar akan lebih tersesat dan pasti capek, tak jarang bisa frustrasi! Manusia butuh terang. Dan bicara soal terang, kata orang, salah satu picu peradaban manusia ialah ketika manusia menemukan api. Api memampukan manusia untuk mengalahkan gelapnya malam malam. Kegelapan tidak lagi menakutkan. Karena api, orang dapat melihat dalam gelap. Tak hanya itu, dengan api manusia dapat memasak daging buruan. Mereka tak lagi makan hewan buruan mentah. Dan itulah yang membedakan manusia dari hewan. Dan api pulalah yang memampukan manusia membuat perkakas. Sehingga berubah dari zaman batu ke zaman logam. Api berguna untuk menerangi. Namun, yang juga penting kita hanya dapat melihat ketika ada cahaya yang tertangkap oleh retina. Tanpa terang itu mustahil kita dapat melihat. Dan Bukan tanpa maksud, jika pada hari pertama dalam kisah penciptaaan Allah berfirman, “Jadilah terang!” Menarik untuk disimak, terang itu diciptakan lebih dahulu ketimbang Matahari, bulan, dan bintang! Artinya, manusia memang butuh terang. Dengan kata lain, terang merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Apa artinya ada sandang, pangan, papan, tetapi semuanya serba gelap gulita. Makan pun susah! Apa enaknya punya rumah mewah, berbaju bagus, kalau tak ada terang! Siapa yang bisa menikmati semua itu? Semuanya serba kacau tanpa terang! Sekali lagi, nubuat Yesaya tadi memang kebutuhan terdalam manusia. Nubuat itu merupakan pengharapan besar manusia. Dan teriakan kegembiraan itu memang bukan rekayasa. Tak hanya anak kecil. Orang dewasa pun kalau listrik yang mati, tiba-tiba menyala, biasanya mereka akan spontan berteriak lega, “Na!” Dan nubuat Yesaya itu genap dalam diri Yesus Kristus! Terang itu sudah datang! Terang itu akan menolong manusia untuk melihat lebih jelas lagi. Kalau mau jujur, dunia kita semakin gelap, semakin gelap. Yang akhirnya, kadang membuat orang bingung dalam mengambil keputusan! Sekali lagi, karena serba nggak jelas. Yang benar dianggap salah dan yang salah dianggap benar. Dalam keadaan begini, jelaslah dunia butuh terang. Dalam kalimat lain, manusia butuh Allah! Tujuan Yesus datang ke dunia ialah untuk menerangi dunia yang gelap ini dengan diri-Nya sendiri. Dan kita sebagai seorang Kristen – jangan lupa, Kristen artinya pengikut Kristen – dipanggil untuk mengikuti jejak Kristus, menerangi dunia. Saudara dan saya dipanggil untuk menerangi dunia. Ini sesuatu yang logis dan sudah semestinya. Terang tak perlu, dan memang tidak mungkin, disembunyikan. Nggak pernah ada dalam sejarah bahwa terang itu kalah dari gelap. Gelap sepekat apa pun akan hilang dengan adanya seberkas sinar terang. Meski hanya seberkas sinar. Dan tidak pernah terjadi terang itu dikalahkan oleh kegelapan. Itu sesuatu yang mustahil. Sehingga Yesus menyatakan agar kita memancarkan terang itu di depan orang. Sekali lagi, dunia membutuhkannya! Terang harus terpancar karena itulah hakikat terang. Dan yang namanya terang itu tidak akan pernah untuk dirinya sendiri. Menarik kalau kita melihat bagaimana seberkas sinar itu pergi ke segala penjuru untuk menerangi kegelapan. Terang tidak mungkin menerangi dirinya sendiri. Hakikat terang ialah senantiasa menyebar. Bagaimanakah kita menjadi terang dunia? Syarat yang pertama dan terutama ialah terimalah terang itu dahulu. Kita tidak mungkin menerangi jika kita belum menerima terang itu. Kita mau menerangi dengan apa, jika kita sendiri tidak memiliki terang itu. Mungkin perumpamaan mengenai bumi, bulan, dan matahari dapat menjelaskan hal ini. Dalam ilmu astronomi kita memahami bahwa baik bulan maupun bumi bukanlah sumber cahaya. Sumber cahaya hanyalah matahari. Bulan begitu terang dan indahnya di waktu malam, karena mendapatkan cahaya dari matahari. Bulan bukanlah sumber cahaya. Dia hanya memantulkan cahaya matahari. Semua orang di bumi merasakan sinar bulan itu. Mereka bersyukur atasnya. Tetapi, toh, bulan tidak dapat menjadi sombon karena dia bukanlah sumber cahaya. Tanpa matahari, bulan tidak akan memberikan cahaya apa pun. Dan Yesus adalah matahari, pengikutnya ialah bulan, dan dunia ini ialah buminya. Bagian kita adalah memantulkan kebaikan Tuhan yang telah kita terima itu. Kita tidak perlu menjadi tinggi hati, karena kebaikan itu memang tidak berasal dari kita. Kita hanyalah memantulkan kebaikan Tuhan. Kita hanyalah bulan, dan Tuhanlah mataharinya. Dan bulan akan terus memantulkan cahaya yang diterimanya itu. Bulan tidak pernah menyembunyikan cahaya tersebut. Menarik bukan, bulan selalu memantulkan cahaya matahari. Kalau pun cahaya bulan tidak tampak, paling-paling itu pekerjaan awan yang menutupi cahayanya, dan bukan karena bulan tidak mau menerangi. Bagaimanakah cara menjadi bulan? Mari kita bercermin melalui kisah Natal dalam hal ini! Kisah Natal menyatakan dengan jelas, pemilik rumah penginapan menolak kehadiran keluarga muda itu. Mereka tidak bersedia menerima keberadaan Yusuf dan Maria. Pemilik kandanglah yang bersedia menerima mereka apa adanya. Memang secara kasat mata tidak sehebat rumah penginapan, tetapi ada orang yang mau menerima keberadaan mereka. Meski sederhana, terkesan darurat, mereka mau ditumpangi keluarga baru itu. Bukankah ini yang terpenting dalam hidup manusia, khususnya dalam dunia pertamuan? Apalah artinya rumah besar dan mewah, tetapi kita tak merasa betah di dalamnya? Bukankah kita senang bertamu di rumah sederhana, tetapi pemiliknya menghargai kita sebagai manusia? Penerimaan mereka itulah yang pada akhirnya membuat kita, para tamu, merasa kerasan. Yang penting memang suasana dan bukan bentuk fisik rumah tersebut! Dan saya merasa yakin Maria dan Yusuf lebih terhibur lagi tatkala serombongan gembala mencari anak itu. Mereka tidak asal mencari. Dasar pencarian itu adalah berita yang disampaikan malaikat kepada mereka. Mereka menjelaskan, Bayi yang baru lahir itu memang bukan sembarang bayi, Dialah Juruslamat! Bagaimana para gembala bisa yakin bahwa Bayi itu adalah Juruslamat? Jawabnya: sederhana. Bayi itu terbaring di dalam palungan. Palungan menjadi tanda bagi Juruslamat yang baru lahir itu. Menarik untuk disimak, tandanya bukanlah nama orang tua Sang Bayi. Saya duga, nama Maria dan Yusuf termasuk pasaran di zamannya. Tentulah, tak mudah mencari siapa di antara banyak pemilik nama itu yang merupakan orang tua Sang Bayi. Dan jangan lupa, baik Maria dan Yusuf adalah orang asing di Betlehem. Sekali lagi, tentulah sulit mencarinya jika yang menjadi patokan adalah nama orang tua Sang Bayi. Palungan menjadi tanda yang tepat. Karena memang tak ada bayi, hingga hari ini, yang terbaring di dalam palungan. Yesus adalah satu-satunya Bayi yang terbaring di dalam palungan. Palungan menjadi tanda karena palungan bersedia menjadi tempat! Bagaimana dengan kita sekarang? Saya mengajak kita untuk berkata, “Memang tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. Tetapi tempat masih ada. Masih ada kandang dan palungan. Dan kami ingin menjadi palungan!” Menjadi palungan berarti menjadi tempat. Menjadi palungan berarti menyediakan ruang dalam hati kita untuk Allah dan manusia. Janganlah pula kita lupa, palungan adalah tempat makanan. Palungan tak ubahnya piring dalam dunia manusia. Menjadi palungan berarti bersedia menjadi piring. Menjadi palungan berarti bersedia menjadi penyalur berkat Tuhan. Bukankah itu pula yang dilakukan para gembala Efrata? Di hati mereka ada tempat bagi Allah sehingga mereka dengan spontan berangkat mencari Juruslamat! Di hati mereka ada tempat bagi manusia sehingga mereka menjadi penginjil-penginjil pertama bagi penduduk yang tinggal di Betlehem. Saya meyakini, Maria dan Yusuf meski tak begitu paham, pastilah terhibur. Malaikat itu tidak pernah menampakkan diri lagi kepada mereka. Dan sekarang, melalui para gembala itu, Maria dan Yusuf merasa diteguhkan hatinya. Tak mudah bagi saya membayangkan suasana dalam kandang itu. Pastilah ramai, seramai orang menyambut kelahiran seorang bayi. Dan suasana semacam ini, mungkin tidak akan terjadi di rumah penginapan; di mana masing-masing tamu sibuk dengan dirinya sendiri. Dan jangan lupa, menjadi palungan berarti menjadi tanda kehadiran Yesus di dunia ini. Menjadi tanda kehadiran Yesus berarti melalui saya dan Saudara, orang melihat sosok Yesus. Menjadi tanda kehadiran Yesus berarti bersedia menjadi hamba-Nya. Menjadi tanda kehadiran Yesus berarti bersedia melakukan apa yang Tuhan mau. Menjadi tanda kehadiran Yesus berarti bersikap seperti Maria, yang dengan tenang berkata, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Menjadi tanda kehadiran Yesus berarti bersikap seperti Yusuf: tulus hati dan taat kepada Tuhan. Menjadi tanda kehadiran Yesus berarti bersikap seperti pemilik kandang yang menerima orang asing sebagai sesama. Menjadi tanda kehadiran Yesus berarti bersikap sebagai seperti para gembala yang dengan spontan pergi mencari Bayi itu, menghibur Maria dan Yusuf, dan menjadi pekabar Injil pertama. Menjadi tanda kehadiran Yesus berarti Menjadi Hamba Tuhan: Memberi Diri Bagi Sesama! Terang Itu Sudah Datang! Bersediakah kita memantulkannya bagi sesama?
ym indrasmoro
|
|
| Last Updated ( Saturday, 23 December 2006 ) |
| < Prev | Next > |
|---|




