Default Screen Resolution Wide Screen Resolution
Home arrow Artikel arrow Menikmati Hidup
Menikmati Hidup PDF Print E-mail
Written by ymindrasmoro   
Tuesday, 19 December 2006

MENIKMATI HIDUP

(Pkh. 3:1-13; Mat. 25:31-46)

 

Di awal 2007 marilah kita memahami Matius 25:31-46 dari perspektif waktu. Sesungguhnya, narasi Yesus yang direkam penulis Injil Matius berkait erat dengan waktu. Dalam narasi ini bertaburan kata-kata yang bersinggungan dengan waktu. Mari kita simak!

Yesus memulai narasinya dengan kata apabila. Sadar tidak sadar, kata apabila biasanya menunjuk pada sesuatu yang belum terjadi. Dengan kata lain, kata apabila berorientasi masa depan. Dan ketika kita berbicara soal masa depan, berarti kita sedang bergumul dengan waktu. Pertanyaannya sekarang: apa artinya kata apabila yang dipakai Yesus di sini?


Mari kita simak lagi awal narasi yang dikemukakan Yesus kepada para murid-Nya.

Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.” (Matius 25:31-33)

Tentulah Yesus sedang membicarakan persoalan yang akan terjadi besok. Dia tidak bicara persoalan kemarin atau sekarang. Bagaimanapun, apabila selalu berkait erat dengan sesuatu yang belum terjadi. Perhatikan pula kata akan yang berulang-ulang dipakai di sini. Dan serentak dengan itu, Yesus tidak mempersoalkan sesuatu yang mungkin terjadi; tetapi sesuatu yang pasti terjadi di masa depan. Artinya, Anak Manusia memang akan datang sebagai raja. Dan sewaktu Dia datang sebagai raja, semua orang akan dihakimi-Nya!

Kata apabila mengisyaratkan bahwa waktu bagi setiap orang terbatas jumlahnya. Dan dalam keterbatasan waktu itu, setiap orang dituntut pertanggungjawabannya! Memang ada orang yang dikaruniai umur panjang; yang lainnya dikaruniai umur pendek. Namun dalam semuanya itu, entah umurnya panjang atau pendek, setiap orang dituntut pertanggungjawaban yang sama. Tidak ada seorang pun yang lepas dari tuntutan itu!

Dan dalam penghakiman itu, tak ada seorang pun yang dapat melancarkan protes. Bagaimanapun, semuanya telah tercatat. Tidak ada yang mungkin mangkir. Sekali lagi, karena semuanya telah terekam. Dan saksinya adalah waktu itu sendiri. Tolok ukur dari catatan itu ialah apa yang dilakukan manusia di dalam waktu!

Berkenaan dengan waktu, entah umur manusia itu panjang atau pendek, tetapi dalam satu hari waktu untuk setiap orang sama. Satu hari, ya 24 jam! Tidak lebih dan tidak kurang. Sehingga frasa mengejar atau dikejar waktu, kurang waktu, terlambat, terlalu cepat sesungguhnya hanya masalah pengelolaan waktu! Sekali lagi, waktu setiap orang sama dalam satu harinya.

Dalam sebuah kesempatan, saya mempromosikan Heroic Leadership, buku karangan Chris Lowney, yang mengisahkan sepak terjang Yesuit empat setengah abad belakangan ini. Saya bilang, “Kalau ada waktu, belilah dan bacalah!” Seseorang langsung protes, “Masak, kalau ada waktu! Kalau ada uanglah!” Saya berkilah, “Persoalannya, waktu tidak bisa dibeli! Waktu tidak bisa diukur dengan uang. Walau kita punya uang, namun tak menyediakan waktu untuk membeli maupun membacanya, apakah mungkin kita dapat membeli maupun membaca buku itu?”

Masalahnya, sering memang di sini, kita acap memandang waktu sebagai sesuatu yang sudah dari sananya, take it for granted, sehingga kita sering menilai waktu sebagai sesuatu yang murahan! Padahal, sesungguhnya tidak bukan! Siapakah di antara kita yang dapat membeli waktu?

Ya, siapa di antara kita yang bisa memiliki waktu? Siapa di antara kita yang bisa memegang waktu? Tak ada bukan? Manusia berada dalam waktu! Waktu itu datang, menghampiri, dan meninggalkan manusia dengan kecepatan yang konstan. Manusia tidak dapat mengantongi waktu sebagaimana dia mengantongi benda lain! Tidak! Waktu berjalan dan kita tidak dapat menangkapnya. Kita tidak dapat menghentikannya! Yang bisa kita lakukan hanyalah mengisinya! Kita hanya bisa menggunakannya! Setelah itu waktu lenyap dalam keabadian!

Lalu, bagaimana kita bersikap terhadap waktu? Kitab Pengkhotbah mempunyai resep bijak!

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.” (Pkh 3:1, TB)

Dalam Alkitab terjemahan Bahasa Indonesia sehari-hari dinyatakan “Segala sesuatu di dunia ini terjadi pada waktu yang ditentukan oleh Allah.” (Pkh 3:1; BIS). Dengan kata lain, Pengkhotbah hendak mengatakan bahwa waktu adalah ciptaan Allah. Waktu adalah milik Allah. Dan Allah telah menetapkannya.

Artinya, jika untuk segala sesuatu ada masanya dan semuanya itu ditentukan Allah, maka manusia seharusnya sungguh-sungguh bijak untuk memahami apakah yang harus dilakukannya dalam waktu tersebut.

Mari kita ambil contoh dari dunia pertanian sebagaimana dinyatakan Pengkhotbah. “Ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam.” (Pkh 3:2, TB). Dengan kata lain, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk panen. Di sini tampaklah bagaimana Pengkhotbah jitu dalam mengambil kesimpulan.

Marilah kita ambil contoh tanaman padi dalam hal ini. Saat yang terbaik untuk menanam adalah pada awal musim hujan. So, tanamlah padi pada awal musim hujan. Jangan sekali-kali menanam padi saat musim kemarau! Jika kita nekat menanam padi pada musim kemarau, maka kita harus bersusah payah menyediakan air agar bibit-bibit padi itu dapat tumbuh baik.

Setelah itu, kita harus memanennya pada waktu yang tepat. Jangan kecepatan, jangan pula terlambat. Kalau kecepatan, pastilah padi itu belum masak sepenuhnya. Jika terlambat, pastilah kita akan kalah cepat dibandingkan dengan tikus-tikus sawah.

Dalam dunia pertanian, istilah yang dipakai masak fisiologis. Kalau mangga, sebelum masak fisiologis namanya mengkal, dan enaknya buat rujak. Sesudah masak fisiologis, mangga itu rasanya sudah tidak enak lagi, kelewat manis karena proses fermentasi. Sejatinya, melakukan sesuatu tepat pada waktunya merupakan hal logis.

Pengkhotbah melanjutkan:

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. Aku tahu bahwa untuk mereka tak ada yang lebih baik dari pada bersuka-suka dan menikmati kesenangan dalam hidup mereka. Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah. (Pkh 3:11-13, TB).

Jika Allah telah menentukan waktu yang tepat untuk segala sesuatu, maka jalan terlogis bagi manusia ialah memahami dengan tepat kehendak Allah dalam hidupnya setiap saat. Pengkhotbah memberikan nasihat tepat, ketika dia menyatakan yang paling baik bagi seorang manusia ialah bersuka-suka dan menikmati kesenangan dalam hidup mereka.

Menikmati hidup, itulah nasihat pengkhotbah! Mengapa kita perlu menikmati hidup karena hidup itu indah! Dan dalam hal ini, janganlah kita melihat waktu sebagai beban, tetapi sebagai kesempatan bagi kita untuk berkarya! Tidak hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk orang lain juga!

Waktu adalah kesempatan untuk berkarya! Inilah yang ditekankan Anak Manusia saat menjatuhkan vonisnya terhadap kambing dan domba.

Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. (Mat. 25:34-36).

Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. (Mat. 25:40).

Perhatikanlah banyaknya kata ketika yang digunakan. Hal ini berarti, semua karya itu dilakukan dalam waktu. Kata ketika merupakan kata penghubung untuk menandai waktu yang bersamaan. Dan kata ketika berarti pula waktu yang sangat singkat atau tertentu. Artinya, orang lapar, orang haus, seorang asing, orang telanjang, orang sakit, orang di penjara, tidaklah setiap saat kita jumpai! Dan kalau kita melakukan kehendak Allah dalam menanggapi semua ketika itu, kita telah melakukannya untuk Yesus.

Dalam hidup tentulah kata ketika sering kita jumpai! Persoalannya: apakah yang kita lakukan saat kita menjumpai kata ketika itu? Apakah kita melakukan kehendak Allah saat itu?

Di Awal tahun 2007 ini marilah kita mempersiapkan diri. Apa yang hendak kita lakukan saat bertemu dengan kata ketika? Apakah kita menganggap waktu adalah karunia Tuhan atau malah beban? Jika ya, apakah kita akan sungguh-sungguh menggunakan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya? Apakah kita memahami waktu yang ada sebagai kesempatan untuk melakukan apa yang baik? Atau, kita malah mengabaikannya?

Di awal tahun 2007 kita kembali diberi kesempatan untuk berencena. Apa yang akan kita lakukan seandainya kita masih diberi kesempatan oleh Tuhan? Apakah kita bertekad hidup sebagai hamba Allah dalam menanggapi kata ketika? Dan inilah cara sejati dalam menikmati hidup! Baik di kehidupan sekarang, maupun kehidupan nanti.

 

ym@indrasmoro

Last Updated ( Tuesday, 19 December 2006 )
 
< Prev   Next >

Polls

Bagaimana menurut anda situs ini?
 
Hal apa yang harus ditingkatkan dalam situs ini?
 

Template Chooser

jc_crib_lite

Search

 

Copyright 2006 TMC-GKJ Jakarta

designed by www.madajimmy.com