Default Screen Resolution Wide Screen Resolution
Home arrow Artikel arrow Natal: Kabar Baik
Natal: Kabar Baik PDF Print E-mail
Written by ymindrasmoro   
Tuesday, 19 December 2006

“Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion: ‘Allahmu itu Raja!’” (Yesaya 52:7).

Demikianlah nubuat Yesaya. Nubuat tentang kedatangan seorang pembawa berita kabar baik. Beritanya bukanlah kabar buruk. Beritanya adalah kabar baik. Dan memang orang suka dengan berita kayak begini. Agak aneh rasanya jika ada orang yang suka mendengar kabar buruk. Orang normal biasanya menyukai kabar baik.


Ini memang sebuah nubuat. Tetapi, nubuat yang menyenangkan. Menyenangkan karena nubuat macam begini merupakan kebutuhan dasar manusia. Ya, sekali lagi, orang suka kabar baik.

Mari kita perhatikan kebiasaan manusia kalau bertemu dengan kerabat yang telah lama tak bersua. Apa yang dikatakannya? “Apa kabar!”, bukan? Lalu, apa jawabnya?

Di sini, yang bertanya biasanya ingin mendengarkan kabar baik dari kerabatnya. Dan yang ditanya pun saya rasa berusaha untuk menjawab dengan: baik! Sekali lagi, aneh rasanya jika yang bertanya mengharapkan kabar buruk dari kerabatnya itu.

Kalau tahu kerabat itu dalam keadaan kurang baik, biasanya kita akan diam. Saya rasa, saat melayat ke rumah kerabat, kita tak mungkin bertanya kepada yang berduka: apa kabar? Setidaknya, saya tidak pernah melakukannya.

Ya, kabar baik memang dibutuhkan manusia. Cobalah perhatikan sebuah iklan! Biasanya dimulai dengan ungkapan Kabar Gembira! Misalnya: “Kabar Gembira, telah dibuka toko buku terlengkap di kota Anda!” Atau: “Kabar Gembira, menyambut Natal kami tawarkan discount sebesar sekian persen!” Jelas, orang suka dengan kabar gembira.

Dan Yesaya, nabi yang hidup delapan abad sebelum Kristus bernubuat: “Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion: ‘Allahmu itu Raja!’”

Menarik untuk disimak, pada ayat inilah untuk pertama kalinya istilah kabar baik muncul dalam Alkitab. Dan di sini kabar baik itu diartikan sebagai pembebasan bangsa dari pembuangan. Israel berada dalam pembuangan di Babel.

Pada masa itu, kekalahan suatu bangsa diartikan juga sebagai kekalahan allah bangsa tersebut. Artinya, kalau ada suatu bangsa yang kalah perang, maka itu berarti allah bangsa itu pun takluk di tangan allah bangsa yang menaklukkannya. Oleh karena itu, ungkapan bahwa Allahmu itu Raja sesungguhnya hendak menekankan kembali kenyataan bahwa Allah Israel lebih hebat dari allah bangsa mana pun.

Berita semacam ini tentulah akan menghibur hati banyak orang yang sedang mengalami penjajahan di tanah asing. Ya, umat Israel pada waktu itu sedang mengalami getirnya menjadi bangsa budak di tanah Babel. Di negeri asing itu mereka tidak sedang piknik, mereka juga bukan tenaga kerja yang mempunyai upah kerja, mereka adalah orang-orang jarahan. Dan sebagai manusia jarahan, mereka bisa diperlakukan apa saja oleh bangsa Babel.

Sekali lagi, mereka bukan warga negara Babel. Mereka adalah bangsa jarahan, yang harus melakukan apa yang diinginkan sang tuan. Dan jangan lupa, tanpa bayaran! Oleh karena itu, nubuat yang disampaikan Yesaya menjadi begitu berarti: Allahmu itu Raja. Dan jika Allah Israel itu raja, maka Dia akan membebaskan Israel dari belenggu pembuangan.

Pembebasan. Itulah inti nubuat Yesaya. Allah diperkenalkan sebagai Allah yang membebaskan. Allah digambarkan sebagai Allah yang peduli kepada umat-Nya. Dan karena itulah, Dia memerdekakan umat-Nya.   

Delapan abad kemudian, inti beritanya masih sama, yaitu pembebasan. Tetapi, tak hanya pembebasan dari belenggu penjajahan yang dilakukan manusia, dalam hal ini Babel, namun lepas dari belenggu penjajahan dosa. Dan ini jelas lebih bermakna karena penjajahan antarmanusia sejatinya merupakan tanda, bahkan bukti nyata, dari penjajahan dosa.

Bagaimanapun, penjajahan antarmanusia merupakan bukti bagaimana dosa masih membelenggu manusia. Kita tentu ingat pernyataan Adam saat Allah menuntut pertanggungjawabannya: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” (Kej. 3:12).

Di sini Adam menjadikan baik Allah maupun Hawa, istrinya, sebagai kambing hitam. Adam hendak lempar batu sembunyi tangan. Dia lebih suka melemparkan tanggung jawab ketimbang bertanggung jawab. Melemparkan tanggung jawab adalah perwujudan dosa. Dan semua praktik penjajahan sejatinya memang bermuara kepada pencarian kambing hitam.

Jika menggunakan peribahasa, manusia yang dibelenggu dosa jarang bersikap tangan mencencang bahu memikul (kesalahan yang kita perbuat, kita sendirilah yang memikulnya). Mereka lebih suka lempar batu sembunyi tangan. Tak mau mengakui kesalahan diri. Atau, merasa aman jika dia makan cempedak, semua getahnya. Dan yang paling gawat adalah bersikap sentiasa mencari kambing hitam.

Ya, kabar baik itu adalah peristiwa “Yesus Kristus”, Allah yang menjadi manusia, hidup, mati, dan bangkit untuk manusia. Penulis Injil Yohanes menyatakan bahwa “Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh anugerah dan kebenaran.” (Yoh. 1:14).

Inilah kabar baik itu. Allah tidak hanya membebaskan manusia, tetapi Dia melakukan tindakan-tindakan nyata untuk membebaskan manusia. Dalam kisah penciptaan, kita bisa saksikan bahwa di sana Allah cukup bersabda. Penulis kitab Kejadian mencatat: “Berfirmanlah Allah, ‘Jadilah terang.’ Lalu terang itu jadi.” (Kej. 1:3). Ya, dalam peristiwa penciptaan Allah cukup berfirman.

Tetapi, dalam kisah pembebasan manusia dari belenggu dosa, Allah tidak hanya berbicara. Jika Allah bersabda agar umat terlepas dari belenggu dosa, maka umat manusia pastilah akan bebas. Tetapi, Allah tidak melakukan itu. Dia tidak merasa cukup dengan hanya bersabda. Allah menjadi manusia.

Sebagai manusia, Dia tidak menjadi Sang Tuan, melainkan menjadi hamba bagi semua orang. Dia tinggal di antara manusia. Dia tidak menyendiri, tetapi bergaul dengan manusia kebanyakan. Oleh karena itu, setiap orang dapat menyaksikan kemuliaan Allah.

Tak hanya itu, sebagai manusia Allah malah menjadikan diri-Nya kambing hitam. Dia menjadi kambing hitam, menjadi sasaran semua hukuman, agar manusia dapat lepas dari belenggu dosa. Jika manusia berdosa cenderung mencari kambing hitam, Yesus malah menjadikan diri-Nya sebagai kambing hitam. Jika memakai istilah Mangunwijaya Yesus adalah tumbal.

Di sinilah orang sezaman Yesus dapat menyaksikan kemuliaan Allah. Kemuliaan yang tidak ditampakkan dalam kehebatan, tetapi dalam keinginan menjadikan diri sendiri sebagai kambing hitam. Pada peristiwa salib, orang dapat menyaksikan kemuliaan Allah. Dan inilah kabar baik itu!

Yesus adalah sabda yang menjadi manusia. Itulah kabar baik. Dan Yesus sendiri memang kabar baik. Artinya, orang-orang sezaman-Nya dapat menyaksikan kemuliaan Allah melalui Yesus Kristus. Sebab, Dialah Allah sendiri. Inilah kabar baik itu manusia dapat menyaksikan kemuliaan Allah: melalui cara hidup dan mati-Nya. Dan penulis Injil Yohanes merupakan salah seorang saksi mata tentang manusia “Yesus Kristus”.

Dan tidak hanya berhenti di situ. Penulis Injil Yohanes itu merasa perlu menuliskan kisah-kasihnya bersama dengan Yesus Kristus, sehingga kabar baik itu masih berkumandang hingga hari ini. Manusia abad XXI masih dapat merasakan kabar baik itu sekarang.

Kita pun dipanggil untuk mempersaksikan kabar baik itu, tak hanya dengan kata, tetapi juga dengan karya. Sehingga damai Natal boleh dirasakan oleh semakin banyak mungkin orang.

Dalam ilmu komunikasi terdapat ungkapan The medium is a message! Media adalah berita itu sendiri. Yesus adalah kabar baik itu sendiri. Pada diri Yesus orang bisa mendengarkan kabar baik dari mulut-Nya dan menyaksikan kabar baik melalui cara hidup-Nya, juga cara mati-Nya.

Itulah yang menarik dari pribadi Yesus. Dia adalah Sabda yang menjadi manusia. Apa yang dikatakan-Nya selaras dengan apa yang dilakukan-Nya. Dalam diri-Nya orang tak melihat kesenjangan. Artinya, Yesus tidak hanya pandai bicara. Dan karena itu pemberitaan-Nya menjadi begitu efektif karena orang melihat bukti dari apa yang dikatakan-Nya!

Kalau hanya mendengar kabar baik, tetapi tak merasakan, kabar baik itu akan cepat berubah menjadi kabar buruk. Ini namanya ngomong doang. Dan ini ujung-ujungnya malah mengecilkan kabar baik itu sendiri. Dan yang lebih parah lagi, orang yang membawa berita baik akan tidak dipercaya para pendengarnya.

Artinya, jika kita bicara soal damai, baiklah kita hidup dalam damai, tak hanya dengan orang lain, tetapi juga dengan diri kita sendiri. Sehingga orang lain bisa menyaksikan bagaimana kita telah menerima diri kita apa adanya. Dan orang yang telah berdamai dengan dirinya sendirilah yang mampu hidup damai dengan orang lain.

Aneh bukan, jika kita gemar bicara damai, tetapi tidak hidup damai dengan orang lain? Aneh bukan kalau kita gemar bicara damai, namun kita selalu menggerutu dan menyalahkan diri sendiri. Masalah damai harus dimulai dari diri kita masing-masing. Jika tidak, perkataan kita akan menjadi hampa, tanpa isi.

Akhirnya, berdamailah dengan diri kita sendiri! Hiduplah dalam damai dengan orang lain! Itulah hakikat Natal!

Selamat Natal!

 

ym@indrasmoro

Last Updated ( Wednesday, 20 December 2006 )
 
< Prev   Next >

Polls

Bagaimana menurut anda situs ini?
 
Hal apa yang harus ditingkatkan dalam situs ini?
 

Template Chooser

jc_crib_lite

Search

 

Copyright 2006 TMC-GKJ Jakarta

designed by www.madajimmy.com